Pada suatu hari Jumat, saya mendengar khotbah di Salman. Sang khotib suaranya keras, kadang suaranya meninggi dan tampak sebagai bentakan dibandingkan kewajaran dinamika intonasi orang yang berpidato.
Saya
tidak tahu siapa dia, namun saya mengenali suaranya karena memang bukan sekali
ini saja beliau menjadi khotib Jumat di sini.
Dahulu
pernah, beliau ini membahas tentang betapa kotornya konspirasi penggunaan uang
sebagai alat tukar pembayaran atau kartal. Dengan suara keras beliau minta kita
semua melawan itu, dan mengajakan kami semua mulai menggunakan dinar dan dirham
sebagai alat pembayaran.
Saya
berpikir: “Walah, gimana caranya ya? Mau bayar angkot, beli buku, atau nasi
bungkus gimana caranya kalau pakai dirham atau dinar?”
Kenapa
beliau tidak bicara di forum negara Islam seperti OKI, menyampaikan ke anggota
dewan, menghadap menteri keuangan, atau presiden untuk mengusulkan hal
tersebut, dibandingkan dia memarahi kami semua di hari Jumat ini karena kami
dianggap ikut ambil bagian dari konspirasi Israel dan antek-anteknya.
Pada
hari Jumat yang lain, Mubalig ini membahas tentang nistanya bunga bank. Dia
menyitir suatu hadist, dan mengeraskan, atau tepatnya membentak dengan keras
“bunga bank itu riba, dan riba itu sama seperti berzinah dengan ibu kandung!”.
Saya
tak punya cara untuk bisa menuliskan kata-kata di atas dengan tanda baca dan
format font yang bisa mewakili ekspresi yang menandakan kalimat tersebut
diucapkan dengan nada tinggi, keras, tajam, melengking, sehingga kucing yang
ada di pelataran Salman pun meloncat kaget lari pontang-panting. Memang suara
kerasnya sangat tidak nyaman, benar-benar seperti orang yang berteriak
memanggil temannya di ujung lapangan bola, padahal itu diucapkan di depan
microphone.
Dulu
waktu masih kuliah, dan sedang di Mesjid Istiqomah di hari Ahad mendengarkan
kuliah dhuha yang cukup padat dengan para ABG laki-perempuan, si ustadznya saat
itu juga tergolong keras. Dia menyampaikan tentang wajibnya menutup aurat bagi
para akhwat.
Dia
mengatakan “makhluk yang tidak menutup
aurat itu hanya binatang, jadi para ibu-ibu dan para gadis yang tidak menutup
aurat, tidak pake kerudung itu tidak ada bedanya dengan binatang”.
Saya
tidak tahu, apakah para akhwat yang hadir saat itu dan belum sanggup memakai
kerudung akan datang lagi pada kuliah dhuha Ahad depan.
Kira-kira
setengah tahun yang lalu, saya kembali Jumatan di Mesjid Salman, dan “sialnya”
ketemu dengan khotib yang sama. Khotib yang pemarah itu.
Kali
ini dia membahas tentang brengseknya anggota dewan yang terhormat, money
politics, studi banding ke luar negeri, uang perjalanan anggota dewan,
tawar-menawar saat menyusun anggaran, berbagai jenis suap di gedung Senayan
tersebut, dan sebagainya.
Si
khotib kembali berteriak seperti memanggil temannya di ujung lapangan bola
pakai mikrofon: “Semua anggota dewan itu adalah penghuni neraka. Haram mereka masuk
surga!”
Saya
berpikir: “Wah, hebat benar dia. Sejak kapan dia ditugasi oleh Allah swt
menjadi penentu siapa yang berhak lewat ke Surga dan tidak”.
Sungguh
sial, saya nggak yakin dengan keikhlasan ibadah Jumat saya. Saya memang sebal
dan mau muntah dengan perilaku anggota dewan, namun kalau sampai judgement
masuk surga-neraka dibawa-bawa, wah wah wah. . . ., apalagi itu diucapkan
dengan cara yang sama, dan kucing yang sama pula kembali meloncat kaget dan
lari terbirit-birit.
Dulu
saya punya teman satu kantor, dia anggota suatu kelompok tertentu. Dia pernah
mengajak saya bergabung dengan jamaah mesjidnya. Dia mengatakan, kelompoknya
adalah termasuk ke dalam 70 golongan yang akan masuk surga.
Ciri
khas dari kelompok ini memang unik. Mereka mempunyai mesjid sendiri, jika
sedang diluar, seperti di kantor, di tempat umum, di rumah kerabat/kolega, dsb,
mereka tak akan mau diimami sholat oleh anggota yang bukan kelompoknya karena
sholatnya tidak sah. Mereka pun tidak akan mau menggunakan sajadah yang kita
gunakan.
Pernah
kawan saya yang lain yang bukan anggota kelompoknya menggunakan sajadah teman
saya itu dan memang benar saat sholat dia menggunakan koran, lalu sajadahnya
yang dipakai kawan saya yang lain itu dia bawa pulang.
Saya
pernah bertanya tentang hal ini kepada sekretaris kantor yang pernah “nyantren”
di mesjid tersebut beberapa bulan, lalu “kabur” begitu akan dibaiat.
Dia
bilang “Memang gitu mas, sajadahnya dibawa pulang untuk dicuci 7 kali karena terkena
najis”.
Waktu
ada tugas perjalanan dinas keluar kota, kami kebetulan berangkat bersama. Saat
akan sholat di hotel, teman saya tersebut sedang mengambil wudhu, lalu saya pun
iseng.
Saya
dengan sengaja mengambil sajadahnya yang ada di lemarinya, lalu saya pakai
sholat, sementara dia masih masih di kamar mandi.
Betul
juga, saat dia keluar dan tahu sajadahnya sudah saya pakai, ia pun sholat
dengan menggunakan handuk mandi sebagai alas. Betul juga, berarti memang benar
saya dianggap najis.
Di
mesjid kompleks saya, setiap minggu ke-4 kuliah subuh selalu diisi oleh seorang
ulama dari sebuah pesantren terkenal di Bandung Utara, dia baru saja meraih
gelar Doktor untuk bidang Hadist.
Beliau
pernah bilang, mereka (sesama ulama) sedang mencari cara untuk membina para
mubalig yang terlanjur memiliki 2 hal. Pertama: Memiliki daya tarik dalam
beretorika atau punya kemampuan tebar pesona, namun kurang ilmu.
Kedua:
Merasa dirinya yang paling benar, ustadz lain dianggap salah, ini salah, itu
salah, sehingga seakan dia sendiri yang bakal masuk surga.
Pernah
juga seorang mubalig yang beken di Bandung, seorang doktor juga, yang rutin
mengadakan majelis ilmu di Bandung Utara tiap hari minggu, pernah
cerita: Sekitar 20 tahun lalu, saudara sepupu perempuannya “ngomelin” seorang
artis (berinisial IK) yang hobby buka-bukaan. Si sepupu perempuan sang mubalig
tersebut, yang saat itu belum pakai kerudung, antara lain bilang begini
”kayaknya calon neraka tuh, paha, dada dipamer-pamerin”.
Si
calon mubalig tersebut (saat itu belum jadi Da’i seperti sekarang tentu saja
karena masih kuliah) menjawab: “jangan gituuuu. Siapa tahu Allah akan
memberikan jalan ke arah hidayah.”
Ustadz tersebut lalu cerita bahwa dia baru
ketemu lagi dengan sepupunya tersebut belum lama ini, lalu dia bilang
begini:”Kamu masih inget nggak bilang apa dulu tentang IK? Bener kan?
Alhamdulillah dia sekarang dapat hidayah. Insya Allah kan dia bukan calon neraka
seperti yang kamu bilang dulu. Kamu malah nggak ada perubahan, dari dulu gituuu
saja ibadahnya”, katanya bernada bercanda. Si ustadz cerita, sepupunya yang
belum juga pakai kerudung tersebut langsung cemberut.
Ada
sebagian orang suka menyepelekan surga-neraka. Selain orang yang, notabene
“mubalig” dengan jabatan yang cukup tinggi di DKM mesjid terkenal, atau
statusnya terpandang karena ketua pontren, namun mudah mengkafirkan sesama
muslim, mudah mengatakan sesat ke kelompok lain.
Sementara
itu banyak orang awam yang menyepelekan pahala-dosa dan surga-neraka dengan cara
itung-itungan amal dan dosa. Saya punya teman yang kerjanya ngasih “entertaint”
ke pejabat yang sedang berkunjung ke daerah, dia bilang “standarnya ya amplop
dan cewek”.
“.
. . makanya saya bayar zakatnya saya gedein, biar impaslah”, gitu katanya.
Saya punya tetangga yang pernah nawarin modal kerja, dia sendiri akan buat
bengkel. Modal yang ditawarin minimal 1 milyar. Dia bilang itu adalah uang
hasil korupsi temannya di pemerintah.
Dia
bilang begini:”Model bisnis seperti ini sekarang lagi trend pak Epsi. Jadi uang
tersebut akan diatas-namakan nama kita, jadi dia bebas dari KPK. Kita putarkan
uang itu minimal 5 tahun atau tergantung situasi. Kalau dia masuk penjara, ya
kita kembalikan setelah dia keluar."
Hebatnya dia bilang begini: "Jangan khawatir pak, dana gini sudah dibersihkan kok. Dia sudah ngeluarin buat mesjid dan nyumbang ke panti asuhan."
Masya
Allah. Apa dia nggak sadar sudah menyuap Allah?
Nyogok
orang saja dosa, ini nyogok ke Allah, dia pikir menyuap Allah dengan menyumbang
mesjid dan anak yatim akan “aman” dari dosa? Bukankah malah akan membuat Allah
makin murka?
2 Septermber 2011