Senin, 27 Agustus 2012

Surga Milik Siapa?


Pada suatu hari Jumat, saya mendengar khotbah di Salman. Sang khotib suaranya keras, kadang suaranya meninggi dan tampak sebagai bentakan dibandingkan kewajaran dinamika intonasi orang yang berpidato.

Saya tidak tahu siapa dia, namun saya mengenali suaranya karena memang bukan sekali ini saja beliau menjadi khotib Jumat di sini.

Dahulu pernah, beliau ini membahas tentang betapa kotornya konspirasi penggunaan uang sebagai alat tukar pembayaran atau kartal. Dengan suara keras beliau minta kita semua melawan itu, dan mengajakan kami semua mulai menggunakan dinar dan dirham sebagai alat pembayaran.
Saya berpikir: “Walah, gimana caranya ya? Mau bayar angkot, beli buku, atau nasi bungkus gimana caranya kalau pakai dirham atau dinar?”
Kenapa beliau tidak bicara di forum negara Islam seperti OKI, menyampaikan ke anggota dewan, menghadap menteri keuangan, atau presiden untuk mengusulkan hal tersebut, dibandingkan dia memarahi kami semua di hari Jumat ini karena kami dianggap ikut ambil bagian dari konspirasi Israel dan antek-anteknya.

Pada hari Jumat yang lain, Mubalig ini membahas tentang nistanya bunga bank. Dia menyitir suatu hadist, dan mengeraskan, atau tepatnya membentak dengan keras “bunga bank itu riba, dan riba itu sama seperti berzinah dengan ibu kandung!”.
Saya tak punya cara untuk bisa menuliskan kata-kata di atas dengan tanda baca dan format font yang bisa mewakili ekspresi yang menandakan kalimat tersebut diucapkan dengan nada tinggi, keras, tajam, melengking, sehingga kucing yang ada di pelataran Salman pun meloncat kaget lari pontang-panting. Memang suara kerasnya sangat tidak nyaman, benar-benar seperti orang yang berteriak memanggil temannya di ujung lapangan bola, padahal itu diucapkan di depan microphone.

Dulu waktu masih kuliah, dan sedang di Mesjid Istiqomah di hari Ahad mendengarkan kuliah dhuha yang cukup padat dengan para ABG laki-perempuan, si ustadznya saat itu juga tergolong keras. Dia menyampaikan tentang wajibnya menutup aurat bagi para akhwat.
Dia mengatakan  “makhluk yang tidak menutup aurat itu hanya binatang, jadi para ibu-ibu dan para gadis yang tidak menutup aurat, tidak pake kerudung itu tidak ada bedanya dengan binatang”.
Saya tidak tahu, apakah para akhwat yang hadir saat itu dan belum sanggup memakai kerudung akan datang lagi pada kuliah dhuha Ahad depan.

Kira-kira setengah tahun yang lalu, saya kembali Jumatan di Mesjid Salman, dan “sialnya” ketemu dengan khotib yang sama. Khotib yang pemarah itu.
Kali ini dia membahas tentang brengseknya anggota dewan yang terhormat, money politics, studi banding ke luar negeri, uang perjalanan anggota dewan, tawar-menawar saat menyusun anggaran, berbagai jenis suap di gedung Senayan tersebut, dan sebagainya.
Si khotib kembali berteriak seperti memanggil temannya di ujung lapangan bola pakai mikrofon: “Semua anggota dewan itu adalah penghuni neraka. Haram mereka masuk surga!”
Saya berpikir: “Wah, hebat benar dia. Sejak kapan dia ditugasi oleh Allah swt menjadi penentu siapa yang berhak lewat ke Surga dan tidak”.

Sungguh sial, saya nggak yakin dengan keikhlasan ibadah Jumat saya. Saya memang sebal dan mau muntah dengan perilaku anggota dewan, namun kalau sampai judgement masuk surga-neraka dibawa-bawa, wah wah wah. . . ., apalagi itu diucapkan dengan cara yang sama, dan kucing yang sama pula kembali meloncat kaget dan lari terbirit-birit.

Dulu saya punya teman satu kantor, dia anggota suatu kelompok tertentu. Dia pernah mengajak saya bergabung dengan jamaah mesjidnya. Dia mengatakan, kelompoknya adalah termasuk ke dalam 70 golongan yang akan masuk surga.

Ciri khas dari kelompok ini memang unik. Mereka mempunyai mesjid sendiri, jika sedang diluar, seperti di kantor, di tempat umum, di rumah kerabat/kolega, dsb, mereka tak akan mau diimami sholat oleh anggota yang bukan kelompoknya karena sholatnya tidak sah. Mereka pun tidak akan mau menggunakan sajadah yang kita gunakan.
Pernah kawan saya yang lain yang bukan anggota kelompoknya menggunakan sajadah teman saya itu dan memang benar saat sholat dia menggunakan koran, lalu sajadahnya yang dipakai kawan saya yang lain itu dia bawa pulang.
Saya pernah bertanya tentang hal ini kepada sekretaris kantor yang pernah “nyantren” di mesjid tersebut beberapa bulan, lalu “kabur” begitu akan dibaiat.
Dia bilang “Memang gitu mas, sajadahnya dibawa pulang untuk dicuci 7 kali karena terkena najis”.

Waktu ada tugas perjalanan dinas keluar kota, kami kebetulan berangkat bersama. Saat akan sholat di hotel, teman saya tersebut sedang mengambil wudhu, lalu saya pun iseng.
Saya dengan sengaja mengambil sajadahnya yang ada di lemarinya, lalu saya pakai sholat, sementara dia masih masih di kamar mandi.
Betul juga, saat dia keluar dan tahu sajadahnya sudah saya pakai, ia pun sholat dengan menggunakan handuk mandi sebagai alas. Betul juga, berarti memang benar saya dianggap najis.

Di mesjid kompleks saya, setiap minggu ke-4 kuliah subuh selalu diisi oleh seorang ulama dari sebuah pesantren terkenal di Bandung Utara, dia baru saja meraih gelar Doktor untuk bidang Hadist.
Beliau pernah bilang, mereka (sesama ulama) sedang mencari cara untuk membina para mubalig yang terlanjur memiliki 2 hal. Pertama: Memiliki daya tarik dalam beretorika atau punya kemampuan tebar pesona, namun kurang ilmu.
Kedua: Merasa dirinya yang paling benar, ustadz lain dianggap salah, ini salah, itu salah, sehingga seakan dia sendiri yang bakal masuk surga.

Pernah juga seorang mubalig yang beken di Bandung, seorang doktor juga, yang rutin mengadakan majelis ilmu di Bandung Utara tiap hari minggu, pernah cerita: Sekitar 20 tahun lalu, saudara sepupu perempuannya “ngomelin” seorang artis (berinisial IK) yang hobby buka-bukaan. Si sepupu perempuan sang mubalig tersebut, yang saat itu belum pakai kerudung, antara lain bilang begini ”kayaknya calon neraka tuh, paha, dada dipamer-pamerin”.
Si calon mubalig tersebut (saat itu belum jadi Da’i seperti sekarang tentu saja karena masih kuliah) menjawab: “jangan gituuuu. Siapa tahu Allah akan memberikan jalan ke arah hidayah.”
Ustadz tersebut lalu cerita bahwa dia baru ketemu lagi dengan sepupunya tersebut belum lama ini, lalu dia bilang begini:”Kamu masih inget nggak bilang apa dulu tentang IK? Bener kan? Alhamdulillah dia sekarang dapat hidayah. Insya Allah kan dia bukan calon neraka seperti yang kamu bilang dulu. Kamu malah nggak ada perubahan, dari dulu gituuu saja ibadahnya”, katanya bernada bercanda. Si ustadz cerita, sepupunya yang belum juga pakai kerudung tersebut langsung cemberut.

Ada sebagian orang suka menyepelekan surga-neraka. Selain orang yang, notabene “mubalig” dengan jabatan yang cukup tinggi di DKM mesjid terkenal, atau statusnya terpandang karena ketua pontren, namun mudah mengkafirkan sesama muslim, mudah mengatakan sesat ke kelompok lain.
Sementara itu banyak orang awam yang menyepelekan pahala-dosa dan surga-neraka dengan cara itung-itungan amal dan dosa. Saya punya teman yang kerjanya ngasih “entertaint” ke pejabat yang sedang berkunjung ke daerah, dia bilang “standarnya ya amplop dan cewek”.
“. . . makanya saya bayar zakatnya saya gedein, biar impaslah”, gitu katanya.

Saya punya tetangga yang pernah nawarin modal kerja, dia sendiri akan buat bengkel. Modal yang ditawarin minimal 1 milyar. Dia bilang itu adalah uang hasil korupsi temannya di pemerintah.
Dia bilang begini:”Model bisnis seperti ini sekarang lagi trend pak Epsi. Jadi uang tersebut akan diatas-namakan nama kita, jadi dia bebas dari KPK. Kita putarkan uang itu minimal 5 tahun atau tergantung situasi. Kalau dia masuk penjara, ya kita kembalikan setelah dia keluar."
Hebatnya dia bilang begini: "Jangan khawatir pak, dana gini sudah dibersihkan kok. Dia sudah ngeluarin buat mesjid dan nyumbang ke panti asuhan."
Masya Allah. Apa dia nggak sadar sudah menyuap Allah?

Nyogok orang saja dosa, ini nyogok ke Allah, dia pikir menyuap Allah dengan menyumbang mesjid dan anak yatim akan “aman” dari dosa? Bukankah malah akan membuat Allah makin murka?

2 Septermber 2011