Sabtu, 30 Oktober 2010

Waktu

Seorang gadis bunga desa, seorang gadis kembang kampus, seorang gadis primadona, seorang gadis dambaan yang bersinar sendirian di tengah suatu komunitas, memang tidak hanya ada di novel, karya sastra roman, sinetron atau film-film.
Mereka ada di sekitar kita.

Gadis primadona biasanya bagai magnet.
Memabukkan banyak pria.
Tiba-tiba melahirkan para petualang cinta.
Berbondong pada malam minggu. Mereka mengadu nasib.


Sang gadis biasanya akan menganggap mereka semua temannya.
Karena bingung memilih diantara seribu.

Atau sang gadis belum punya kriteria apapun. Atau sang gadis belum mau memilih siapapun. Atau sang gadis belum merasa ada pria yang membuat jantungnya berdebar dan yang membuatnya lemas.

Tidak ada teori apapun yang bisa meramalkan. Pria manakah yang akan menjadi dambaan hatinya. Apakah seorang pria pendiam yang ikut antri di malam minggu? Atau pria ngocol banyak omong yang ikut berdesakan di kala sabtu malam?
Ataukah pria yang pandai mengambil hatinya dihari-hari lain, selasa, rabu, atau kamis?

* * *

Seorang pria. Sudah fitrahnya hanya berburu dan berburu.
Ia mungkin mendatangi banyak gadis dalam kurun waktu yang sama. Semacam mengadu nasib.
Namun mungkin ada pria yang hanya memilih satu, lalu bersungguh-sungguh mendapatkannya.


Mungkin pula ada seorang pria yang membina persahabatan dengan banyak gadis cantik pilihan. Lalu ia mengamati dengan sabar dan cermat, manakah yang pantas menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.



Tak ada pemirsa atau penonton panggung sandiwara dunia yang cukup pandai untuk bisa memastikan dengan siapakah gadis kembang kampus akan bersanding.
Apakah dengan pria jurusan lain satu angkatan, empat angkatan di atasnya, dengan pria lainnya, atau dengan pangeran ganteng berkuda putih yang kelak akan menjemputnya.

Demikian pula.
Tak ada pemirsa atau penonton panggung sandiwara dunia yang cukup pandai untuk bisa memastikan dengan siapakah si pria misteri akan bersanding.

* * *

Jika keduanya nyatanya tidak terpaut, lalu mereka diterpa "badai masa lalu" yang membuat mereka saling merasa spesial. Apa yang mesti mereka lakukan agar mereka bisa saling merasa sebagai teman biasa?

...

Tidak ada.

Masa lalu tidak bisa dibunuh.
Karena waktu pula yang akan memudarkannya.
Waktu yang akan membuat mereka makih biasa.
Masa lalu lambat laun akan menjadi sekedar sebuah kenangan lucu.
Maka tidak ada yg perlu dilakukan agar rekannya dipaksa menjadi teman biasa saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar