Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 November 2010

Saeful (2)

Tidak selalu saya dan Ikhsan jumatan bareng seperti saat itu. Kadang anak saya jumatan di sekolahnya, kadang saya di Salman, namun saya lebih sering jumatan di Mesjid Ad Da’wah, mesjidnya Pak Miftah Farid yang ada di Jalan Sidomukti Sukaluyu. Saya memang sering menyempatkan mampir ke Sukaluyu, tempat ibu saya yang sudah berusia 78 tahun, jadi sambil soan, sekalian jumatan.

Tak terasa dua bulan berlalu. Hari ini hari Jumat. Saya menjemput Sari, adik Ikhsan yang SD-nya tak jauh dari Istiqomah. Saya semula berencana jumatan di Ad Da’wah, namun tampaknya tak memungkinkan, karena jalanan sekitar sekolah macetnya luar-biasa. Mencari parkir sama sulitnya dengan mengeluarkannya dari kerumunan mobil para penjemput yang malang melintang dan berantakan nggak karuan.

Antrian kendaraan-kendaraan merambat perlahan, bahkan lebih sering berhenti. Saya beberapakali melihat arloji. Begitu berhasil mencapai perempatan Jalan Riau–Citarum dengan susah payah, waktu sudah menunjukkan pukul 11.45. Ini waktu yang tidak layak untuk mencapai Ad Da’wah tanpa terlambat. Solusinya sudah jelas, saya harus jumatan di Mesjid Istiqomah yang jaraknya hanya 200 meter dari perempatan ini.

Saya mencari sisa-sisa lahan parkir yang masih kosong di sekitar mesjid.

Memarkirnya, dan bergegas masuk pelataran, lalu antri lagi untuk ambil air wudhu. Datang jumatan ke mesjid pada jam yang mepet seperti ini segalanya tidak nyaman. Parkir susah, penitipan sepatu/sandal sudah penuh, sudahlah ngantri untuk wudhu, air krannya pun kecil banget, belum lagi nyari tempat yang masih kosong di lantai utama mesjid.

Saya bersiap untuk tahiyatul mesjid, namun Sari ikut berdiri bingung, celingak-celinguk ke kanan-kiri-depan-belakang memperhatikan sekeliling mesjid yang sudah penuh dengan jamaah.

“Duduk saja ya?”, saya meminta Sari duduk dengan tenang.

***

Jamaah jumat sebagian sudah mulai meninggalkan pelataran, namun sebagian masih terlihat menyelesaikan sholat sunat. Saya meluruskan kaki.

“Ayuk, Ayah!”, Sari mengajak pergi.

“Ntarlah, masih penuh, lihat tuh!”, saya menunjuk pintu keluar masjid yang masih berjubel.

Bersamaan dengan itu saya melihat ada keributan yang tidak biasa di tengah kerumunan yang berjubel di tangga turun mesjid sebelah Utara.

Suara ribut-ribut ini lebih tampak seperti ada pertengkaran kecil.

Kepenasaranan membuat saya segera berdiri, tangan Sari saya raih, saya gandeng. Kami bergegas menuju sumber keributan di anak tangga.

Seorang pria menghardik: “Kalau kamu salah ambil, coba mana sepatu kamu, ayo mana!”. Seorang bapak memelototi pria 40 tahunan berkulit gelap yang kumisnya hitam lebat.

Saya terkesima, saya mengenal pria ini. Masya Allah, ini kan laki-laki yang pernah saya hadiahi sepatu-sandal Weidenmann beberapa minggu lalu.

“Bawa saja ke polisi”, seseorang menyahut.

Ada juga yang nyeletuk: “Pukulin saja biar kapok”.

Saya melihat orang-orang lebih banyak yang menonton. Ada yang wajahnya biasa, ada yang ikut tegang, namun beberapa ada yang senyum-senyum melihat situasi seperti ini.

Sementara ada juga yang berusaha menenangkan si Bapak yang emosional karena sepatunya hampir dibawa kabur itu.

“Sudahlah, sabar pak”.

“Sabar sih gampang mas!, tapi orang kayak gini harus dikasih pelajaran, orang ginian yang bikin mesjid gak aman!”.

Si Bapak yang masih marah ini berbicara sambil mendorong laki-laki yang tertangkap basah ini. Pak Kumis ini agak terhuyung, ia tampak pasrah, wajahnya dingin.

Saya tidak bisa membiarkan ini, tanpa banyak pikir, tanpa banyak pertimbangan, saya merangsek masuk ke kerumunan dengan perlahan dengan tetap menggandeng Sari.

“Pak!, pak!, maaf!”, saya setengah berteriak.

Orang-orang menoleh dan memberi jalan.

“Maaf, ini tukang kebon saya”, saya maju dan lalu memegang pundak pria Weidenmann ini.

Saya tidak mau memberi kesempatan orang-orang berpikir, terutama Bapak yang hampir kemalingan, sehingga saya terus nyerocos.

“Maaf sekali lagi, pak Saeful ini memang eemm..., apa ya?. Dulu dia sekolah di SLB”.

Saya membuat jeda sebentar, kali ini supaya kalimat saya dicerna oleh para jamaah jumat rahimakumullah.

Dan tipuan ini tampaknya berhasil. Ide bahwa si Saeful ini “terbelakang” atau “mental retarded” begitu saja muncul di kepala saya.

“Tapi sekarang jadi tukang kebon saya. Jadi sekali lagi maaf, bapak-bapak tolong memaklumi kalau dia rada error. Tolonglah ya..., kasihan”, saya mengembangkan senyum ke sekeliling.

Para “hadirin” tampak saling berpandangan.

“Dia bareng bapak?”, si bapak yang hampir kecolongan sepatunya bertanya dan tampak masih waspada.

“Ya. Tadi saya kelamaan di dalam, saya nggak lihat pak Saeful keluar duluan, harusnya saya dampingi”, saya jawab sembari heran sendiri, kenapa kalimat ini demikian saja meluncur dan terucap seperti itu. Padahal kalau dipikir lebih lanjut, apa sih peduli dan kepentingan saya dengan maling sial ini?.

Saya menoleh ke laki-laki yang sudah saya beri nama “pak Saeful”.

“Pak Ipul lupa lagi ya sepatunya yang mana?”. Saya geli dalam hati. Selain sudah memberi nama baru, saya juga sudah memberikan nama panggilan “Pak Ipul”, jangan-jangan saya juga sudah ikut error?.

“ee... iya”, pak Ipul menunduk, lalu celingak-celinguk berlagak mencari.

Kerumunan mulai terbuka, orang-orang senyam-senyum, bergumam, berbisik-bisik antar rekannya, ada yang memandang pak Saeful dengan pandangan kasihan.

“Sepatu pak Ipul kan disana. Saya kan nyimpen sepatu di sana juga”, saya menunjuk ke arah mesjid sebelah Selatan, yang letaknya di kanan mesjid.

“Oh iya”, pak Ipul Kumis ini mengangguk-angguk. Kami berjalan masuk kembali ke mesjid.

Saya sengaja tidak lagi memandang atau melihat reaksi lanjutan dari orang-orang yang mungkin masih memperhatikan kami, terutama bapak yang nyaris kecolongan sepatu tadi. Dengan permintaan maaf dan bersikap rada cuek, itu sudah cukup untuk menyempurnakan sandiwara ini.

Sandiwara? Kenapa ini saya lakukan? Kami berjalan menyeberangi ruang mesjid, melintas dari pintu Utara ke pintu Selatan. Saya menggandeng Sari, yang dari tadi tidak bersuara karena dia terlalu kecil untuk memahami drama satu babak ini.

Sementara Pak Saeful, Pak Ipul, Pak Kumis, atau entah siapa namanya ini, berjalan mengikuti di samping kiri saya, agak kebelakang setengah meter.

Kami tidak berkata-kata. Sambil berjalan saya sempat berpikir, kenapa saya tiba-tiba membela maling kambuhan ini, menolong untuk kedua kalinya, saya berjalan sambil mencari-cari pembenaran terhadap apa yang telah saya lakukan ini.

Menjelang mendekati pintu Selatan, pikiran saya mulai bergerak dari pemikiran analisis-teoritis-idealis ke proses pemikiran realistis-praktis. Saya mulai berpikir, si Saeful ini ngapain masih nguntit saya, bukankah dia yang tahu dimana letak sandal buntutnya ia simpan. Atau ia mau Weidenmann lagi?

Kami sampai di tangga turun pintu Selatan, saya menghampiri sepatu saya dan Sari.

Kami berdua duduk di anak tangga pertama, lalu mulai memasang kaos kaki.

Pak Ipul berdiri terpaku di belakang kami. Saya sengaja masih cuek.

Begitu selesai mengikat sepatu, saya menoleh, “Tadi bawa sandal nggak?”.

Pak Saeful nggak menjawab, wajahnya kuyu. Ia mendekat perlahan. Lalu ikut duduk di samping kiri saya. Ia mengambil jarak sekitar satu meter. Termenung.

Kedua telapak tangannya mencengkeram kedua lututnya.

“Pake sandal nggak?”, saya mengulang pertanyaan. Ia menggeleng.

“Saya lupa tadi pake apa”, jawabnya singkat.

Saya terdiam. Melihat arloji, lalu berdiri.

“Saya inget bapak kok”, katanya lagi tanpa berani memandang saya.

Saya menoleh, memperhatikan wajahnya. Ia masih tak berani menatap.

“Saya malu sama bapak”.

Saya diam tak menjawab.

“Kenapa bapak nolong saya lagi?”.

“Saya nggak nolong pak Ipul, tapi nolong bapak yang tadi”. Saya terdiam sebentar.

“Dia sudah emosi tadi, nggak baik bagi dia, kalo sampai gebukin orang. Apalagi habis jumatan, di pelataran mesjid lagi”.

Sembari mengucapkan ini, sempet terlintas di benak saya, kalau yang tertangkap basah adalah koruptor milyaran, mungkin dibiarkan saja digebukin seluruh jamaah mesjid.

“Ya tapi bapak juga sudah nolong saya tadi. Itu yang bikin saya malu”, pak Ipul mengucapkan ini lagi, kali ini ia memandang saya.

Saya menoleh ke Sari, “Makan di warung sini saja ya?”.

Sari menjawab: “Terserah ayah saja, aku kan sudah makan, tadi dibekelin mama”.

Saya menoleh ke Pak Saeful. “Kita makan dulu di warung depan situ”. Saya menunjuk Warung Soto Betawi yang letaknya diluar pagar Mesjid sebelah Selatan.

“Nggak pak, makasih”, ia menolak.

“Saya yang bayar”, saya menegaskan tapi ia tetap menggeleng.

“Kamu sudah makan?”.

Ia menggeleng lagi.

“Kamu ini tadi ambil sepatu orang. Belum makan. Tapi ditraktir makan nggak mau”.

“Bapak ini orang aneh”, kali ini ia pasang wajah gusar. Mengingatkan saya pada kejadian 2 bulan lalu. Ini wajah marah yang sama ketika ia mengancam.

“Kamu akan saya kasih kerjaan, kita obrolin sambil makan”.

Ia tampak sedikit terkejut.

“Ayolah, saya harus antar anak saya lalu balik ke kantor”. Suara saya terdengar lebih tegas dan bernada perintah.

Pak Saeful berdiri perlahan, lalu mengikuti kami tanpa alas kaki, menuruni anak tangga.

[BERSAMBUNG]

Selasa, 26 Oktober 2010

Saeful (1)

Mesjid Istiqomah, minggu kedua Bulan Maret 2005.

Imam mengumandangkan salam kedua mengakhiri sholat Jumat. Tampak 3-5 orang langsung berdiri kembali untuk sholat, mungkin mereka harus segera kembali ke kantor sementara mereka tak mau kehilangan kesempatan mendapatkan RahmatNya dengan meninggalkan sholat sunat ba’da sholat Jumat.

Dua-tiga menit kemudian sebagian besar orang berdiri, berbondong meninggalkan pelataran, beberapa tampak berjalan perlahan, melintas dengan hati-hati di antara jamaah yang masih dzikir dan wirid. Beberapa orang tampak berhenti, menoleh kiri dan kanan karena jalannya terhalang jamaah yang mulai banyak yang berdiri melaksanakan sholat kembali.

Selesai sholat sunat, saya menoleh ke belakang mencari Ikhsan, anak saya. Di kejauhan terlihat ia menunggu di samping pintu Selatan Mesjid. Saya berdiri berjalan melewati beberapa orang yang sedang duduk mengobrol, beberapa orang yang sedang duduk Tahiyat, yang sedang wirid, yang sedang membuka Qur’an kecil, juga melewati 2-3 orang yang melepaskan penat, berbaring terlentang, meluruskan otot punggung, kedua tangannya direntang di atas kepalanya, matanya kedap-kedip memandang langit-langit.

Kami berdua melewati kerumunan jamaah yang padat bergerombol di tempat penitipan sepatu dan sandal di selasar Masjid. Kami memang tidak ikut ngantri, karena sepatu Ikhsan dan sepatu-sandal Weidenmann saya, kami letakkan demikian saja di tangga naik ke Mesjid.

Di anak tangga pertama banyak orang duduk memasang sepatu, saya coba mengingat dimana saya tadi meletakkan sepatu-sandal.

Saya sedikit terkejut. Seorang laki-laki umur 40an tahun, dengan badan yang berisi, kulit gelap, pakai T-shirt hitam dengan gambar sablon yang kurang jelas, celana jeans, kumisnya hitam lebat, dengan posisi berdiri sedang memaksakan kakinya pada sepatu-sandal Weidenmann, ... yang tampaknya bukan miliknya.


Seketika saya ingat cerita teman kuliah saya yang bernama Dikdik, saat selesai sholat Jumat di Masjid Salman, ia juga terkejut saat seseorang yang berperawakan kekar, kumis melintang, pakai jaket kulit, duduk di lantai dan sedang memasang sepatu yang bukan miliknya, sepatu Dikdik tentu saja.

Kawan saya ini badannya kecil, dan menurut pengakuannya, ia rada takut juga dengan si Bapak yang berpenampilan preman itu. “Ngeri euy”, katanya.

Namun ia harus mengambil keputusan dengan cepat, apa mau membiarkan sepatunya diembat begitu saja di depan hidungnya tanpa perjuangan sama sekali, atau berusaha menegakkan hak atas kepemilikan pribadi.

Ia bertanya pelan dan takut-takut “punten pak, itu punya saya”. Menurut ceritanya, si preman menoleh dengan pandangan cuek, tanpa wajah kaget, tanpa merasa bersalah, “ooh gitu?”. Lalu si jeger ini melepas kembali sepatu Dikdik yang baru terpasang sebelah itu, berdiri, mengambil sandal jepit butut, lalu ngeloyor pergi dengan santainya.

Saya tertegun memandang laki-laki yang sudah selesai memasangkan kedua kakinya di sandal gunung Weidenmann 215 ribu yang baru berumur 3 bulan itu, dan siap hengkang.

“Maap, bapak nggak salah pak? Itu punya saya deh”, saya menegurnya dengan senyum sambil menunjuk sepatu-sandal yang ia kenakan.

Ia tampak terkejut dan panik. Tanpa berkata-kata, dengan tergopoh ia berusaha melepas kembali alas kaki tersebut. Dari reaksi yang dia tunjukkan ini, saya yakin dia pencuri yang belum berpengalaman, jadi singkatnya: kalah senior dengan “temannya” Dikdik yang di Salman itu.

Saya menepuk pundaknya, saya merasakan lembabnya kaos T-shirtnya oleh keringat, “pakai saja, kalau bapak suka”.

Ia sekilas tampak gusar, matanya nanar, ia menggeleng cepat, dan karena gugup, Weidenmann sebelah kiri sulit dilepaskan karena belt-nya masih terpasang.

“Nggak usah dilepas, ambil saja! Kalau bapak memang perlu”.

Kali ini ia tampak marah: “Kenapa? Bapak mau teriak maling? Supaya saya tertangkap basah?”.

Belum sempat saya menjawab, ia menghardik lagi. Walau dengan suara pelan namun kata-katanya terdengar jelas:

“Saya bawa golok, kalau Bapak mau macem-macem”.

Saya mencengkram pundaknya dan balas mengancam:

“Ambil! Pake! Kalau kamu nggak mau make, justru saya akan teriaki kamu maling! Dan kamu bisa mati digebugin jamaah disini”.

Saya sedikit merendahkan suara agar tidak terdengar orang-orang yang sedang duduk memasang sepatu di anak tangga.

Meskipun demikian ada beberapa jamaah yang memperhatikan, dan tampak tegang menyaksikan drama ini.

Ikhsan berdiri di belakang saya, sehingga saya tidak tahu apa ia ikut stress, namun saya tidak berani menoleh untuk me-meriksanya, karena saya harus tetap waspada dengan laki-laki yang sudah mengancam dengan golok ini.

Si maling ini diam terpaku, tampak sudah kalah gozz dengan balasan hardikan saya.

Saya melepaskan cengkraman dari pundaknya:

“Saya lagi baik hati. Ambillah, sebelum saya berubah pikiran. Saya gampang, mobil saya dekat sini, nyeker gak apa-apa”.

Sepersekian detik si maling masih terpaku. Namun sudah terlihat mulai ragu.

“Ambillah. Saya yakin bapak terpaksa melakukan ini untuk makan”, suara saya merendah.

Saya menambahkan:

“Kalo saya ngasih, itu jadinya bukan barang haram lagi untuk kamu”.

Laki-laki ini memandang saya, lalu memandang Weidenmann, ia menggaruk perlahan leher belakangnya.

Dengan gerakan salah tingkah ini, saya merasa dia sudah bukan ancaman lagi.

“Baik, gini saja. Saya pergi. .... Mudah-mudahan bermanfaat”

Saya menoleh ke arah anak saya, wajahnya biasa. Mungkin Ikhsan yang sudah SMP kelas 3 begitu mengandalkan saya sehingga ia tenang-tenang saja.

“Yuk san! Kita pulang”. Kami menuruni anak tangga dan tidak menoleh lagi.

Kami berjalan bergegas.

“Sayang yah!, masih baru kok dikasihin ke maling?”.

Saya hanya tersenyum: “Biarinlah, sebentar lagi itu jadi nasi”.

Dasar anak yang terlalu muda untuk memahami situasi yang tak biasa ini, ia tak bisa menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang.

Saya tidak terpancing, malahan mempercepat langkah karena lantai semen terasa panas di kaki karena teriknya matahari.

“Ayah, dia pergi tuh ke arah sana pake sandal ayah”. Ikhsan menunjuk ke arah parkir Timur.

“Syukurlah, mudah-mudahan ini kerjaan dia terakhir”, saya berkata sambil merogoh kantong untuk mengambil kunci mobil.

“Ih, sayang yah Weidenmann-nya”, Ikhsan masih nyerocos.

“Kenapa sih ayah?. Padahal jangan dikasihin, kan dia juga tadi nggak mau”.

Saya diam saja. Membuka pintu mobil. Memasukkan anak kunci, menyalakan mesin.

Memundurkan perlahan, menyerahkan se-ribuan ke tukang parkir. Lalu melesat kearah Utara.

[BERSAMBUNG]