Mesjid Istiqomah, minggu kedua Bulan Maret 2005.
Imam mengumandangkan salam kedua mengakhiri sholat Jumat. Tampak 3-5 orang langsung berdiri kembali untuk sholat, mungkin mereka harus segera kembali ke kantor sementara mereka tak mau kehilangan kesempatan mendapatkan RahmatNya dengan meninggalkan sholat sunat ba’da sholat Jumat.
Dua-tiga menit kemudian sebagian besar orang berdiri, berbondong meninggalkan pelataran, beberapa tampak berjalan perlahan, melintas dengan hati-hati di antara jamaah yang masih dzikir dan wirid. Beberapa orang tampak berhenti, menoleh kiri dan kanan karena jalannya terhalang jamaah yang mulai banyak yang berdiri melaksanakan sholat kembali.
Selesai sholat sunat, saya menoleh ke belakang mencari Ikhsan, anak saya. Di kejauhan terlihat ia menunggu di samping pintu Selatan Mesjid. Saya berdiri berjalan melewati beberapa orang yang sedang duduk mengobrol, beberapa orang yang sedang duduk Tahiyat, yang sedang wirid, yang sedang membuka Qur’an kecil, juga melewati 2-3 orang yang melepaskan penat, berbaring terlentang, meluruskan otot punggung, kedua tangannya direntang di atas kepalanya, matanya kedap-kedip memandang langit-langit.
Kami berdua melewati kerumunan jamaah yang padat bergerombol di tempat penitipan sepatu dan sandal di selasar Masjid. Kami memang tidak ikut ngantri, karena sepatu Ikhsan dan sepatu-sandal Weidenmann saya, kami letakkan demikian saja di tangga naik ke Mesjid.
Di anak tangga pertama banyak orang duduk memasang sepatu, saya coba mengingat dimana saya tadi meletakkan sepatu-sandal.
Saya sedikit terkejut. Seorang laki-laki umur 40an tahun, dengan badan yang berisi, kulit gelap, pakai T-shirt hitam dengan gambar sablon yang kurang jelas, celana jeans, kumisnya hitam lebat, dengan posisi berdiri sedang memaksakan kakinya pada sepatu-sandal Weidenmann, ... yang tampaknya bukan miliknya.
Seketika saya ingat cerita teman kuliah saya yang bernama Dikdik, saat selesai sholat Jumat di Masjid Salman, ia juga terkejut saat seseorang yang berperawakan kekar, kumis melintang, pakai jaket kulit, duduk di lantai dan sedang memasang sepatu yang bukan miliknya, sepatu Dikdik tentu saja.
Kawan saya ini badannya kecil, dan menurut pengakuannya, ia rada takut juga dengan si Bapak yang berpenampilan preman itu. “Ngeri euy”, katanya.
Namun ia harus mengambil keputusan dengan cepat, apa mau membiarkan sepatunya diembat begitu saja di depan hidungnya tanpa perjuangan sama sekali, atau berusaha menegakkan hak atas kepemilikan pribadi.
Ia bertanya pelan dan takut-takut “punten pak, itu punya saya”. Menurut ceritanya, si preman menoleh dengan pandangan cuek, tanpa wajah kaget, tanpa merasa bersalah, “ooh gitu?”. Lalu si jeger ini melepas kembali sepatu Dikdik yang baru terpasang sebelah itu, berdiri, mengambil sandal jepit butut, lalu ngeloyor pergi dengan santainya.
Saya tertegun memandang laki-laki yang sudah selesai memasangkan kedua kakinya di sandal gunung Weidenmann 215 ribu yang baru berumur 3 bulan itu, dan siap hengkang.
“Maap, bapak nggak salah pak? Itu punya saya deh”, saya menegurnya dengan senyum sambil menunjuk sepatu-sandal yang ia kenakan.
Ia tampak terkejut dan panik. Tanpa berkata-kata, dengan tergopoh ia berusaha melepas kembali alas kaki tersebut. Dari reaksi yang dia tunjukkan ini, saya yakin dia pencuri yang belum berpengalaman, jadi singkatnya: kalah senior dengan “temannya” Dikdik yang di Salman itu.
Saya menepuk pundaknya, saya merasakan lembabnya kaos T-shirtnya oleh keringat, “pakai saja, kalau bapak suka”.
Ia sekilas tampak gusar, matanya nanar, ia menggeleng cepat, dan karena gugup, Weidenmann sebelah kiri sulit dilepaskan karena belt-nya masih terpasang.
“Nggak usah dilepas, ambil saja! Kalau bapak memang perlu”.
Kali ini ia tampak marah: “Kenapa? Bapak mau teriak maling? Supaya saya tertangkap basah?”.
Belum sempat saya menjawab, ia menghardik lagi. Walau dengan suara pelan namun kata-katanya terdengar jelas:
“Saya bawa golok, kalau Bapak mau macem-macem”.
Saya mencengkram pundaknya dan balas mengancam:
“Ambil! Pake! Kalau kamu nggak mau make, justru saya akan teriaki kamu maling! Dan kamu bisa mati digebugin jamaah disini”.
Saya sedikit merendahkan suara agar tidak terdengar orang-orang yang sedang duduk memasang sepatu di anak tangga.
Meskipun demikian ada beberapa jamaah yang memperhatikan, dan tampak tegang menyaksikan drama ini.
Ikhsan berdiri di belakang saya, sehingga saya tidak tahu apa ia ikut stress, namun saya tidak berani menoleh untuk me-meriksanya, karena saya harus tetap waspada dengan laki-laki yang sudah mengancam dengan golok ini.
Si maling ini diam terpaku, tampak sudah kalah gozz dengan balasan hardikan saya.
Saya melepaskan cengkraman dari pundaknya:
“Saya lagi baik hati. Ambillah, sebelum saya berubah pikiran. Saya gampang, mobil saya dekat sini, nyeker gak apa-apa”.
Sepersekian detik si maling masih terpaku. Namun sudah terlihat mulai ragu.
“Ambillah. Saya yakin bapak terpaksa melakukan ini untuk makan”, suara saya merendah.
Saya menambahkan:
“Kalo saya ngasih, itu jadinya bukan barang haram lagi untuk kamu”.
Laki-laki ini memandang saya, lalu memandang Weidenmann, ia menggaruk perlahan leher belakangnya.
Dengan gerakan salah tingkah ini, saya merasa dia sudah bukan ancaman lagi.
“Baik, gini saja. Saya pergi. .... Mudah-mudahan bermanfaat”
Saya menoleh ke arah anak saya, wajahnya biasa. Mungkin Ikhsan yang sudah SMP kelas 3 begitu mengandalkan saya sehingga ia tenang-tenang saja.
“Yuk san! Kita pulang”. Kami menuruni anak tangga dan tidak menoleh lagi.
Kami berjalan bergegas.
“Sayang yah!, masih baru kok dikasihin ke maling?”.
Saya hanya tersenyum: “Biarinlah, sebentar lagi itu jadi nasi”.
Dasar anak yang terlalu muda untuk memahami situasi yang tak biasa ini, ia tak bisa menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang.
Saya tidak terpancing, malahan mempercepat langkah karena lantai semen terasa panas di kaki karena teriknya matahari.
“Ayah, dia pergi tuh ke arah sana pake sandal ayah”. Ikhsan menunjuk ke arah parkir Timur.
“Syukurlah, mudah-mudahan ini kerjaan dia terakhir”, saya berkata sambil merogoh kantong untuk mengambil kunci mobil.
“Ih, sayang yah Weidenmann-nya”, Ikhsan masih nyerocos.
“Kenapa sih ayah?. Padahal jangan dikasihin, kan dia juga tadi nggak mau”.
Saya diam saja. Membuka pintu mobil. Memasukkan anak kunci, menyalakan mesin.
Memundurkan perlahan, menyerahkan se-ribuan ke tukang parkir. Lalu melesat kearah Utara.
[BERSAMBUNG]