Perangkap itu sesuatu yang tidak menyenangkan.
Siapa sih yang mau masuk perangkap?. Baik perangkap yang sesungguhnya, seperti perangkap untuk menangkap tikus, perangkap burung, atau lubang perangkap dengan kayu-kayu tajam pembunuh dalam peperangan, maupun perangkap dengan arti kiasan.
Dalam acara debat, orang yang pandai berargumentasi biasanya pandai menyerang lawan bicaranya sehingga lawan debatnya itu terperangkap dengan kata-katanya sendiri dan terbawa dalam kendali pembicaraan orang yang lihai berdiplomasi tersebut.
Seorang pemuda yang menyukai seorang gadis, kadang memasang perangkap, perangkap cinta. Dan ini berbeda dengan perangkap tikus atau perangkap dengan kayu tajam pembunuh. Ini adalah perangkap yang mungkin didambakan. Si gadis bisa saja dengan senang hati dan sukarela menyebloskan dirinya masuk lubang perangkap ini.
Bisa juga si gadis tidak sadar dirinya masuk perangkap, semula rasanya biasa-biasa saja, namun lambat laun dia terkurung, dan dia kaget kok tiba-tiba dia gelisah jika tidak bertemu, makan tak enak, tidur tak nyenyak, dan rindu dendam kepada pemuda tersebut. Naaah, jika ini yang terjadi maka inilah perangkap laki-laki yang "sesungguhnya".
Tadi disebutkan: seorang pemuda “kadang memasang perangkap”. Apakah tidak selamanya perlu?
Ya memang banyak faktor, apakah diperlukan perangkap atau tidak.
Seorang pemuda ganteng, cool, keren, wajah artis, rambut versi terakhir, pakaian modis, walau sebenarnya sedikit bodoh tapi dia kaya. Pokoknya jenis pemuda yang sudah kena "kutuk", yaitu kutukan jadi orang kaya 7 turunan.
Nah jenis pemuda seperti ini tak perlu susah-susah bikin perangkap. Karena para gadis seperti semut ngrumunin gula.
Si pemuda tadi hanya perlu main mata sedikit saja, maka sudah bisa membuat gadis yang dilirik tadi klepek-klepek, lututnya lemas, nabrak pintu, dan malamnya gak bisa tidur.
Namun sayangnya pemuda seperti ini (ganteng, keren, kaya, tapi rada dungu), biasanya tipikal, cintanya selayang pandang, bosenan, hanya untuk kesenangan.
Seorang laki-laki dengan pekerjaan mapan, bisnisnya maju, rumah di daerah “beverly hills”, harga mobilnya gak bisa dihitung dengan kalkulator tukang sayur yang dijitnya terbatas, walau tampangnya biasa saja, jauh dari wajah Leonardo DiCaprio, Pierce Brosnan, atau Kevin Costner, kalau perlu pasangan, perlu istri, tidak perlu dan tidak punya waktu untuk buat perangkap yang sulit-sulit. Ia cukup menyapanya, mengajak dinner, itu sudah cukup membuat para gadis lupa akan usianya terpaut setengah abad dengannya, cukup membuat janda muda berbunga-bunga, serasa terbang melayang ke langit, walau mungkin tidak seratus persen mencintainya, yang penting hidupnya terjamin, dan bisa belanja ke tempat-tempat mahal.
Seorang pria anak pejabat tinggi, perusahaannya menggurita walau hasil ka-ka-en, mobilnya tak terhitung, rumahnya banyak sampai anaknya yang belum lahirpun sudah dia belikan, punya gudang uang seperi Paman Gober, bersinpun keluarnya dollar bukan ingus (maaf).
Pria jenis ini pun tak memerlukan perangkap untuk menggaet wanita yang disukainya. Dia cuma lihat bintang iklan yang seksi di TV, dan dia cukup minta sekretarisnya menelponnya untuk mengajaknya kencan dengan bossnya. Tak diperlukan usaha apapun yang cukup “macho”, untuk mengajak para gadis atau perempuan menjadi teman kencannya atau istrinya, bahkan hanya sekedar mengajak tidur bareng (sekali lagi maaf). Walau ada konflik moralitas, tapi anehnya tetap banyak wanita yang ngantri menjadi pasangannya.
Ok, kita singkirkan ketiga jenis pemuda/laki-laki/pria jenis ini dalam pembicaraan tentang perangkap. Ini bukan konteks pembicaraan kita.
Bagian pertama
1) Membuka kontak
Seorang pria tidak bisa hanya berdoa di mesjid minta lancar jodoh tanpa usaha apapun.
Seorang perempuan yang lonceng umur kepala tiganya sudah berdentang keras tidak mungkin setelah berdoa dan menangis, tiba-tiba ... gubrak! seorang suami ganteng, kaya, dan soleh jatuh dari langit menembus atap kamarnya dan jatuh tepat di hadapannya dan sembari masih pusing dia menyapa “halo sayang, aku cinta padamu”. Dan kalau ini terjadi pun, kisah tidak akan berlanjut karena si calon istri keburu stroke saking kagetnya.
Di ITB, sudah menjadi rahasia umum. Mahasiswa tingkat pertama akan menjadi objek perburuan para serigala. Prinsipnya sederhana, barang bagus di toko tidak akan bertahan lama. Anak ayam yang dagingnya yummy akan cepat disambar elang.
Jika menemukan wanita cantik rupawan angkatan tahun ke-2, jangan terlalu berharap karena mungkin sudah ada pemiliknya. Dan jangan coba-coba mendekati bidadari yang aduhai angkatan tahun ke-3 atau 4, karena begitu anda melangkah mendekat, akan ada pemuda dengan clurit ditangan dan berteriak “step over my dead body!”.
Karena ITB mayoritasnya adalah laki-laki, maka perburuan pada mahasiswa tingkat pertama menjadi seru, persaingan menjadi sangat ketat. Gadis primadona tak melebihi banyaknya jari tangan. Siapa cepat dapat, who dares wins!, kesempatan baik tidak datang dua kali.
Aula Barat ITB, sebuah bangunan kuno dengan arsitektur unik yang berada di zona konservasi ini dulu pernah difungsikan sebagai ruang baca mahasiswa. Gedung ini bisa menampung 200 orang. Puluhan meja yang muat 10-15 orang tersebar di seluruh ruangan.
Jika selang kuliah yang satu dengan berikutnya nanggung, misalnya satu-dua jam, maka para mahasiswa akan berkumpul disini. Ada yang belajar, mengerjakan tugas bersama, ngobrol, atau . . . . mata jelalatan. Dan kalau pekerjaan ini yang sedang kami lakukan maka kami berbagi informasi. Susi ada di meja sekian, Heni ada di posisi jam 10, Erna ada di arah jam 2.
Pada suatu hari di tahun 1985, kami mengobrol di meja yang cukup strategis.
Kuswara kawan saya satu kelas, Fisika Teknik 82, memberi kode: “meja kedua arah jam satu”.
Saya menengok ke kiri arah jam satu dari Kuswara. Tampak 2 orang anak Farmasi 85 sedang ngobrol, di atas meja ada berkas dan kertas-kertas, kotak pulpen, tip-ex, satu botol plastik air mineral, dan sebagainya.
Mereka adalah Wati dan Herlin, anak angkatan baru, dan sudah tercatat dalam database kami. Semua data sudah lengkap, hanya satu yang belum: Berkenalan!.
Saya memberi kode kepada Kuswara.
“Mau ngapain Eps?, sekarang? . . . Gila kamu!”.
Saya berdiri, Kuswara mengikuti. Kami menghampiri meja dua anak Farmasi tersebut.
“Boleh pinjem tip-ex-nya?”, saya bertanya. Kedua gadis ini terpana.
“Eh minta ding, bukan minjem, dikit aja”, saya mengkoreksi.
Kedua gadis saling berpandangan, lalu salah satu mengambil tip-ex yang tergeletak lalu menyodorkannya ke saya.
“Makasih ya”, saya mundur dan duduk di meja di seberang mejanya. Merogoh ransel, mengambil makalah tugas yang sudah kadaluarsa karena sudah ada nilainya, berpura-pura menyapunya dengan tip-ex sedikit di sembarang tempat. Berdiri lalu menghampiri kembali pemilik tip-ex.
“Makasih lagi ya”, saya meletakkan tip-ex di meja.
Satu gadis yang berkerudung putih mengangguk dan tersenyum sedikit, yang satu lagi tersenyum manis, sampai gigi depannya terlihat: “iya…”, jawabnya pendek.
“Jurusan apa?”.
Mereka saling berpandangan mungkin tidak menyangka saya menyambar dengan pertanyaan itu. Lalu yang tersenyum manis tadi menjawab “Farmasi”.
Iya tentu saja Farmasi, saya dan Kuswara sudah tahu itu.
Saya mengulurkan tangan: “saya Epsi”.
Dia terdiam sebentar, tampak mata lugunya menjadi bulat, ia mengulurkan tangan “Wati”.
Yang kerudung namanya Herlin, asal dari Panjalu-Ciamis, sedangkan Wati dari Kuningan, anak tunggal.
Inilah kontak pertama.
Dua bulan sejak itu kami sudah berteman, saya beberapa kali datang ke tempat kostnya Wati. Bahkan Wati dan Herlin sudah berani memberikan saya pekerjaan. Mereka pernah minta tolong menerjemahkan 2 halaman jurnal tentang kesehatan karena mereka harus segera mengumpulkannya.
Wati adalah kandidat. Berteman adalah langkah awal.
2) Gaya perkenalan
Ternyata ada banyak Herlin di muka bumi.
Saya berkenalan dengan Herlin lain, kali ini jurusan Biologi. Tetapi bukan Herlin yang menjadi kandidat.
Indri, temannyalah yang menjadi sasaran utama.
Indri merupakan kembang kampus. Terlalu banyak serigala yang mendatanginya untuk berkenalan, mungkin dia bosan, dan jenuh. Setiap duduk untuk belajar di Aula Barat, ada saja yang mendatanginya, mengajak kenalan, tanya jurusan, tanya alamat, berlagak sok tahu dengan kasih saran macam-macam tentang pelajaran.
Saya berniat memberi “sentuhan” lain, . . . dan berhasil.
Saya sudah bertegur sapa dengan Herlin. Mungkin dia ge-er, tetapi tidak apa, biarkan saja, pada saatnya nanti dia akan tahu, kepada siapa saya akan berteman lebih dekat.
Memang Indri dan Herlin hampir selalu bersama. Ke kantin, ke Aula Barat, ke Mesjid Salman, bahkan duduk dalam ruang kuliah mereka sering bersebelahan.
Suatu hari keduanya tampak sedang melihat foto-foto di lorong sekitar unit Liga Film Mahasiswa (LFM). Unit kegiatan ini domain kegiatannya adalah berkisar sinematografi dan fotografi.
Keduanya asyik menyusuri foto demi foto yang terpasang di rak dinding kaca sepanjang lorong itu.
Saya menghampirinya, dan menegurnya: “Halo lin!, habis kuliah?”.
Herlin membalikkan badan, “Oh mas Epsi, iya habis kuliah”.
“Masih ada kuliah lagi?”.
Satu dua pertanyaan, lalu tiga empat saya lontarkan pertanyaan basa-basi, sambil menunggu saatnya tiba.
Apa? Tentu saja saya diperkenalkan dengan Indri.
Dan itu memang terjadi. Hehehe . . .
***
Dahulu beberapa bangunan tua di blok jalan Ganesha – Gelap Nyawang – Tamansari merupakan Asrama mahasiswa. Salah satu asrama yaitu Asrama F yang di terletak di sisi jalan Ganesha terdapat kantin, namanya Kantin F, dan ini merupakan tempat makan alternatif selain yang ada di dalam kampus dan kantin Salman.
Suatu siang, saya sedang makan, isi piring baru loading setengahnya.
Ada 2 mahasiswa jurusan Teknik Industri angkatan baru masuk. Salah satunya memang bunga diantara bunga yang ada.
Saya mengawasinya. Tampak mereka tidak makan nasi, mereka hanya membeli beberapa jenis kue ringan jajan pasar, dan segelas jus buah. Saya menghentikan makan, berpikir.
Yang teringat cuma satu: “kesempatan tidak akan datang dua kali”.
Mereka mengambil duduk di meja yang agak jauh dari meja saya, dan seperti kebanyakan cewek, mereka duduk berdampingan, ngobrol perlahan, di depannya dibiarkannya kosong.
Saya mengangkat piring nasi, gelas minuman, dan ransel kuliah.
Tanpa rasa malu dan risih, saya meletakkan piring dan gelas di depan mereka, meletakkan ransel di kursi, lalu duduk, dan langsung tembak “Firda ya?”.
Dua gadis yang masih terpana dengan laki-laki kurang ajar yang nyelonong tanpa ijin, padahal kiri kanan meja masih luas, makin terkesima dengan pertanyaan model tembak langsung seperti itu.
Saya kadang tidak berpikir panjang, lebih sering berdasarkan intuisi dan feeling. Mereka berdua pasti akan merespon apapun yang saya tanyakan. Rasanya kemungkinan kecil jika mereka langsung pergi atas tindakan saya. Apalagi mengguyur saya dengan jus buah terlebih dahulu. Keyakinan akan adat timur yang membuat orang cenderung bersikap sopan dan permisif. Itu lah keyakinan saya.
Gadis dengan mata indah dan senyumnya menawan yang disebut Firda itu mengiyakan, tapi ia tampak orang yang tidak mudah ditaklukkan, ia cepat bisa ambil kendali, lalu dia melontarkan pertanyaan pertanggung-jawaban: “Kamu tau dari mana saya Firda”.
Saya tidak perlu membahas bagaimana kelanjutan obrolan tersebut disini, yang penting, inilah satu dari sekian gaya perkenalan!. Gaya preman!.
Pertanyaan Anda mungkin adalah: lalu siapa yang akhirnya jadi istri saya? Wati, Indri, atau Firda?
Sementara simpan dulu pertanyaan itu, karena kita hanya fokus pada “cara”, bukan hasil akhir.
Setuju?
[BERSAMBUNG]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar