Rabu, 03 November 2010

Titipan


"Pak, masih punya adik yang masih single gak. Kenalin doong..".

Itu adalah ucapan salah satu murid Ahmad, dan ini sering sekali dia ucapkan pada berbagai kesempatan.
Ahmad sendiri hanya selalu tersenyum.
Dewi, muridnya yang berkulit putih itu memang tampaknya tidak bisa menyembunyikan perasaannya.
Setiap Ahmad mengajar, Dewi tidak pernah lepas menatap gurunya itu.
Ahmad kadang melontarkan pertanyaan di kelas. Pada suatu kesempatan dia minta Dewi menjawabnya, dan ia kelabakan seraya bertanya balik "Pertanyaannya tadi apa pak?".
Dewi tahu Ahmad sudah menikah, karena itu pula dia rajin bertanya di luar kelas: Apakah pak Ahmad punya adik-lah, apakah adiknya mukanya mirip dengan pak Ahmad-lah, apakah pak Ahmad punya saudara kembar-lah, dsb.

Tuti. Murid Ahmad di angkatan yang lain, yang selalu pakai celak mata, tidak bertanya apakah Ahmad punya saudara kembar, tapi dia malah nekat mengirim salam, berdalih pinjem kamera, pinjem buku ini-itu, dsb.
Ami. Murid Ahmad pada generasi lainnya. Wajahnya cantik, matanya bundar menari-nari, bicaranya rame.
Sering bertanya saat praktek di laboratorium. Segala pertanyaan dia lontarkan, membuat Ahmad sering menghampiri meja komputernya. Juga Ami sering menyengaja datang ke sekretariat, cari pak Ahmad. Ngapain? ya bertanya dan bertanya, dan Ami memang inspiratif, tak pernah kehilangan ide dan bahan obrolan. Dia malah pernah datang ke rumah Ahmad, membawa hardisk yang katanya rusak. Hmm...

Murid datang dan pergi. Berbagai Dewi, berbagai jenis Tuti dan bermacam tipe Ami datang dan pergi.
Ahmad bersikap biasa saja.
Karena jika Ahmad bersikap lebih dari itu, mungkin malah kehormatannyalah yang menjadi bayarannya. Jika Ahmad sedikit saja melempar kata-kata yang bernuansa rayuan, mungkin mereka akan berbalik membencinya. Karena mereka menjadi tahu manusia macam apa Ahmad itu.
Sebaliknya, jika Ahmad menjauhi, bersikap berlebihan, menegurnya supaya tidak menggodanya, mungkin mereka ngomel: dasar ge-er-lah, sok gantenglah, sok berwibawa-lah.
Ahmad tahu harus bersikap bagaimana. Ibarat memegang telor, tenaganya harus pas, jika terlalu kuat akan pecah, jika terlalu lemah, jatuh.

Hal seperti ini bagi Ahmad mungkin lebih mudah. Karena fitrahnya laki-laki itu tidak terlalu terganggu dengan hal-hal semacam ini.
Berbeda jika hal ini dialami oleh perempuan yang sudah bersuami, mungkin mereka akan terganggu secara psikis, tidak nyaman, bahkan kesal.
Mereka harus lebih waspada dalam bersikap. Mereka harus lebih giat mempertahankan pagar-pagar yang membentengi dirinya. Mereka harus cukup arif bagaimana merespon segala bentuk "serangan" berupa rayuan gombal, ajakan, celotehan, atau berbagai dalih obrolan, baik secara langsung, telepon, surat, SMS, atau email.

Tidak akan ada perempuan yang cukup berhasil kecuali dia cukup kuat.
Kuat hatinya, dan kuat landasannya.
Dan tidak ada landasan yang cukup kokoh kecuali...iman.

Di antara aspek iman itu adalah menyadari bahwa semua yang kita miliki itu adalah titipan.
Allah memberikan kita tubuh yang sehat. Ini titipan.
Banyak dari saudara kita, teman kita, tetangga kita, yang masih rajin mengepulkan asap dari mulutnya, padahal mereka tahu itu meracuni paru dan darahnya, merusak organ tubuhnya. Mereka meracuni orang-orang disekelilinginya, bahkan meracuni anak dan istrinya. Boleh dipertimbangkan, merokok itu bentuk perbuatan yang tidak amanah.
Seperti kita dipinjami sepeda bagus, dan kita merusaknya secara sengaja dengan dalih kesenangan semata.

Wajah rupawan seorang akhwat, atau mungkin perilaku yang menyenangkan dari seorang ikhwan, itu juga suatu titipan.
Jika mereka menutup diri dengan dalih menjaga keimanan dan amanah, itu bisa saja dilakukan.
Namun jika amanah yang diberikan Allah digunakan untuk berkarya dan berikhtiar?
Jika amanah yang diberikan Allah menjadi media yang membuat kita makin mensyukuri nikmatNya?, makin menambah kecintaanNya?
Bisakah?...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar