Minggu, 14 November 2010

Perangkap (3)


Bagian ketiga


1) Potensi diri

Cukup lama saya berpikir apa yang harus saya tulis.

Tulisan bagian kedua dan ketiga ini jaraknya hampir 2 minggu. Bingung bagaimana caranya menyampaikan topik ini. Saya harus menyampaikan bahwa potensi diri adalah hal yang penting, tapi saya tidak punya referensi apapun.

Ok, deh mungkin saya menggunakan pengalaman pribadi, atau tepatnya menggunakan referensi diri sendiri. Sebenarnya tidak nyaman menceritakan tentang potensi diri sendiri. Tapi ini pembicaraan di antara kita saja ya? Bukan untuk konsumsi masal, hmm . . .

Wajah, air muka, rona muka, aura wajah setiap orang itu berbeda-beda. Ada wajah yang bersahabat, wajah suméh/ramah, wajah ceria, enak dipandang, contohnya seperti (saya sebutkan tokoh masyarakat ya, supaya mudah): Farhan (presenter), Aam Amiruddin (mubalig), Tifatul Sembiring (Menkominfo), Jusuf Kalla (mantan Wapres), Andi A.Mallarangeng (Menpora), Bima Arya (pengamat politik yang menjadi kader PAN), Patrialis Akbar (Menkumham), dan sebagainya.

Ada juga tipe wajah “biasa”, wajah normal, tidak mengganggu, tidak mencolok, dan jenis wajah seperti ini yang paling banyak di dunia ini.

Namun ada juga tipe wajah yang dingin, tidak bersahabat, bernuansa “judes”, berkesan angkuh. Contohnya seperti: Fadel Muhammad (Men.Kelautan), Yusril Ihza Mahendra (mantan Mensekneg), dan . . . saya hehehe.

Dengan wajah tidak bersahabat, dingin, bukan wajah “gaul”, tidak tentu tidak mendukung dalam proses yang sedang kita bicarakan ini.

Namun syukurlah, saya berhasil menemukan potensi diri untuk menjadi orang yang “diperhitungkan”.

Potensi diri ini tidak ditemukan dengan mudah, tetapi setelah melalui banyak kejadian, bukti-bukti empiris, dan fakta di lapangan.

Saya memang berwajah pembunuh berdarah dingin, serem, dan sama sekali tidak bersahabat, tetapi saat saya sudah bicara, bercanda, bertutur kata, kok tampaknya mereka sadar bahwa Epsi ternyata pribadi yang “hangat“ juga :-).

Agak narsis. Tetapi sekali lagi, saya tidak tahu cara lain untuk menjelaskan tentang topik potensi diri ini.

Begitulah.

Saya tidak bisa berkenalan dengan cara seperti di film-film romantis atau buku-buku novel asmara. Mencuri pandang, main mata, dengan gadis pujaan. Mereka pasti ketakutan.

Karena saya tahu persis memiliki senjata jenis apa, maka saya harus segara datangi, lalu ajak ngobrol banyak-banyak.

Saya tentu tidak mengetahui potensi diri macam apa yang Anda miliki.

Apa pun potensi Anda. Lakukan eksplorasi dengan itu. Kemudian gunakan untuk menarik gadis atau pria pujaan.

Tapi jangan salah interpretasi. Harta, jabatan, dan kedudukan bukan potensi yang sebenarnya. Itu bukan potensi kita yang sebenarnya. Itu adalah potensi yang menipu.

Inner beauty adalah salah satu contoh potensi. Banyak wanita yang tampak tidak begitu menarik secara fisik. Bahkan jika kita lihat fotonya, nilainya tak sampai 7 koma 5. Namun begitu kita sudah berhadapan dan ngobrol dengannya. Paduan mimik muka saat dia bicara, gerakan bola matanya, bibirnya, perilakunya, dinamika dan intonasi saat dia bicara, dsb. begitu mempesona, sedemikian rupa sehingga kita menyadari itulah anugrah dan “kecantikan” yang diberikan Allah padanya.

Ingat Wati, teman Farmasi 85 yang pernah diceritakan pada bagian pertama?. Saya memang tidak melangkah lebih jauh dengannya, bahkan saya malah sering dia godain tentang Indri, anak Biologi 85. Suatu hari dia tanya: “Kak Epsi, ngeceng anak Bio ya?”. Saya langsung mengiyakan. Wati berkata lagi dengan polosnya: “Hehehe. . . saya sempet ge-er lho sebenarnya”.

Wati anaknya manis walau badannya agak sedikit gemuk, namun yang lebih mempesona adalah cara dia bicara, apalagi suaranya yang merdu seperti kicau burung. Kita bisa betah mendengarkan dia bercerita atau dia tertawa.

Saat itu saya yakin, potensi dirinya itulah yang akan menggaet pangeran berkuda putih yang menjadi suaminya kelak.


2) Pribadi yang menyenangkan

Sekali lagi saya bingung untuk menguraikan kata-kata sakti ini: Jadilah pribadi yang hangat. Jadilah pribadi yang mempesona. Jadilah pribadi yang menyenangkan.

Mungkin kalau baca textbook akan lebih mudah bagaimana cara menjadi pribadi yang menyenangkan itu.

Pribadi yang menyenangkan itu antara lain: tidak mudah terbawa emosi, mentalnya stabil.

Tutur katanya santun. Bisa membawakan diri dengan baik di lingkungan apapun.

Humoris, tapi tidak semua hal dibuat canda dan dagelan sehingga kita tidak tampak menjadi orang pernah serius dan cengengesan.

Bagi ikhwan, kewibawaan dan kedewasaan itu penting. Tak ada akhwat yang merasa cukup aman dan terlindungi jika pasangan hidupnya tidak dewasa dan kurang wibawa di matanya.

Mental yang stabil, bisa berpikir rasional, tidak mudah menyerah, bisa mengatasi problem, adalah aspek yang menunjukkan kedewasaan seseorang.

Jujur, menepati janji, dan komitmen, adalah tonggak kewibawaan.

Kebanyakan perempuan tidak suka dengan laki-laki yang terlalu banyak mengeluh, terlalu banyak ngomel, tidak pernah serius, atau terlalu banyak bicara tentang dirinya.

Kebanyakan perempuan juga tidak terlalu menyukai laki-laki yang tampak tidak berdaya tanpa dirinya secara berlebihan, merengek-rengek cintanya, setiap hari menelponnya berjam-jam, datang tiap pagi dan petang, “mengganggu”nya tanpa henti, seperti tidak ada pekerjaan lain lagi di dunia ini.


3) Aku membutuhkanmu

Ini kalimat yang indah sekali. Kalimat inilah yang akan melahirkan cinta, akan membuat cinta itu abadi, bahkan esensi dan substansi dari kalimat ini akan membuat seseorang bisa bertahan hidup.

Saya katakan esensi dan substansi, karena tidak harus diucapkan secara vulgar, gamblang, dan eksplisit.

Bapak saya sebelum meninggal sudah kepayahan dengan sakitnya. Ashma yang kronis. Dengan ashma yang parah, membuat asupan oksigen ke paru-paru menjadi minim, sehingga membuat bagian bawah kedua paru-parunya mengkerut tidak lagi bisa berfungsi. Keadaan ini membuat jantung kepayahan karena harus bekerja ekstra berat untuk memompa darah ke seluruh tubuh dengan kadar oksigen yang rendah. Fungsi jantung pun terganggu. Kadang detak jantung tidak ritmis.

Sebagian waktu bapak hanya ada di tempat tidur. Tabung oksigen di samping ranjang menjadi teman yang setia. Walau tidak terus menerus, tapi begitu ashma menyerang, maka oksigen kalengan ini memang sangat membantu.

Suatu siang, enam dari tujuh anak-anaknya tidak ada di rumah, karena mereka punya rumah sendiri karena sudah berkeluarga, dan satu orang yang masih bujangan belum pulang kerja.

Saat itu bapak sekitar 72 thn, ibu lebih muda 4 tahun. Sudah bisa dikatakan dua orang manula.

Siang itu hujan lebat, suara petir berulangkali terdengar keras menggelegar, kadang cahaya kilat dan suara gemuruhnya hampir bersamaan, menandakan jarak petir sangat dekat.

Ibu yang semula di ruangan tengah sedang mengisi teka-teki silang, berdiri bergegas lalu masuk kamar, dan duduk di samping tempat tidur bapak.

Bapak memandang bingung tanpa berkata. Ibu juga memandang bapak, lalu tersenyum.

Bapak ketawa. “kowe wedi yo?” (kamu takut ya?).

Ibu ketawa kecut “hehehe iya”.

Inilah yang membuat bapak bisa bertahan hidup lebih lama.

Badan sudah tidak berdaya, tidak bisa dibawa kemana-mana, tidak kuat lagi membantu istrinya membereskan rumah, sudah tidak bisa melindungi lagi istrinya dari bahaya dengan pundaknya yang bidang dan kekar seperti waktu muda dulu. Bapak cuma bisa berbaring dan menjadi beban.

Tapi yang membuatnya bertahan hidup adalah: “Ibu masih butuh aku”.

Saat geledek menyambar begitu dekat, saat suara petir begitu menakutkan. Ibu begitu ketakutan dan merasa aman disamping bapak.

Walau ibu masih kuat ikut arisan RW, ikut pengajian mingguan, pergi belanja ke pasar swalayan, jalan-jalan keliling kompleks, tapi Ibu tetap merasa aman berada di samping bapak.

Saat bapak ada di rumah sakit, ibu di rumah selalu gelisah: “Aku tidak bisa hidup tanpa bapakmu”.

Yang merasa tidak bisa ditinggal justru yang sehat, inilah kekuatan cinta.

Tetapi saat proses penjajakan berhati-hatilah dengan menginterpretasikan “aku membutuhkanmu” terutama untuk ikhwan.

Jika seorang ikhwan curhat ke teman wanitanya segala problem yang dihadapi, urusan sekolah, urusan rumah, kakaknya yang egois, adiknya yang tidak bisa dikasih tahu, urusan kantor, bossnya yang main perintah seenaknya, dan sebagainya. Hati-hati! Ini hanya akan memberikan kesan gratis ke calon istrimu itu bahwa Anda orang yang lemah, kurang gigih, tidak tegar, letoy.

Jika gadismu sudah berpikiran ”cowok gua payah banget, banci, cengeng”, atau dia bilang ke temennya: “Pusing nih, gue kok kayak jadi guru BP” (maksudnya Bimbingan dan Penyuluhan yang ada di sekolah untuk mengatasi murid bermasalah).

Wah, gawat, berarti dia sudah ragu apakah Anda pantas menjadi pemimpinnya kelak.

Di suatu malam minggu. Saya melintas jalan Tubagus Ismail dari arah Sukaluyu menuju Jln.Kidang Pananjung di sekitar simpang dago, tempat rumah kost gadis pujaan.

Tiba-tiba mobil yang saya gunakan bermasalah, mesin tersendat, kelihatannya masalah karburasi. Saya membawanya ke tepi. Saya coba memperbaiki sekedarnya, tapi gagal.

Ini setengah perjalanan. Tiga kilo ke rumah, tiga kilo ke gadis pujaan.

Saat itu tahun 1989, belum ada telepon seluler. Jadi tidak bisa melakukan kontak apapun.

Seharusnya saya pulang, minta bala-bantuan, beserta membawa peralatan lampu senter, perkakas, dsb.

Tetapi itu tidak saya lakukan. Mobil saya kunci. Dan karena jalur ini belum ada angkotan kota, maka saya berjalan kaki menuju Kidang Pananjung sejauh 3 kilometer.

Begitu sampai di sana. Sebelum saya ketuk pintu. Saya menghela nafas dulu. Saya merasa tidak layak bertemu kekasihku, karena badan gerah dan panas, walau jam menunjukkan jam setengah sembilan malam, tapi keringat bercucuran dan membasahi punggung, badan pun bau keringat.

Tapi saya merasa yakin saya berada pada jalur dan langkah yang tepat.

Sayup-sayup saya mendengar gadisku bernyanyi diiringi denting gitar. Yang surprise, lagu yang dinyanyikan adalah “Kisah Sedih di hari Minggu”nya Koes Plus.

Saya ge-er, tampaknya dia menghibur diri karena saya tidak terlihat batang hidungnya padahal waktu sudah menunjukkan jam setengah sembilan.

Saya mengetuk pintu agak keras supaya suaranya tidak tenggelam dengan bunyi gitarnya.

Pintu dibuka oleh Benny, kakaknya yang kuliah di UNPAD. “Oh Epsi, masuk si!”.

Saya masuk dengan masih terengah-engah.

Calon istri saya itu (maunya begitu), tampak kaget.

Kata-kata yang pertama dia ucapkan adalah: “Kok malem banget”.

Saya menjelaskan duduk persoalan. Lalu komentar rasionalnya keluar (atau basa-basi ya): “Aduh, apa aman tuh mobil ditinggal malem gini, kenapa gak nyari montir”.

Saat itu saya ingin ketawa, mana ada montir jam segini. Tapi ada yang lebih penting yang harus saya ucapkan:

“Iya sih, cuma ntar saya nggak ketemu kamu. Daripada saya nggak bisa tidur”. Saya mengucapkan dengan tampang serius.

Agak terdengar gombal ya? tapi ini menjadi tonggak yang signifikan dari hubungan kami berdua.

Ini adalah ekspresi “aku membutuhkanmu”.

Seorang ikhwan bisa saja meminta pendapat atau masukan kepada teman akhwatnya, tapi harus jauh dari kesan bodoh, lemah, atau cengeng.

Dia harus cerita dengan biasa, tetap rasional, jauh dari kesan sedang ngomel. Lalu bertanyalah dengan arif: “Kalo kamu jadi saya, baiknya gimana ya?”.

Apapun komentar temanmu itu dengarkan dengan penuh perhatian. Karena ego laki-laki kadang sulit disembunyikan. Alih-alih minta masukan, tapi begitu akhwat pujaan sudah beri saran, Anda menyepelekan atau kurang menghargainya tanpa sadar: “Itu sudah terpikir oleh saya sih, cuma kayaknya bukan ide yang baik”.

Jika masukannya didengar dengan seksama, diberi komentar ringan yang menyenangkan, dan berterimakasih atas masukkannya itu, sang gadis akan senang atas usaha bantuannya. Itu sudah cukup untuk memberi kesan: Aku dibutuhkannya.


4) Murahan versus Jual Mahal

Substansi “aku membutuhkanmu” juga ada bahaya yang sangat besar pada ranah implementasi bagi akhwat.

Kalau para ikhwan memang lebih merdeka, mereka bisa bersikap atau berkata segombal-gombalnya.

Tapi untuk para akhwat tidak bisa.

Kalau kualitas hubungan sudah dekat, yaitu sudah ke tingkat komunikasi antar hati, dimana banyak hal bisa disampaikan lewat raut muka, gerak-gerik wajah, atau bahasa tubuh, serta mereka sudah selangkah lagi ke pernikahan, maka ucapan verbal: “Mas, saya kangen”, itu sah-sah saja.

Tetapi jika belum, maka berhati-hatilah.

Menjadi akhwat itu lebih sulit. Jika terlalu terbuka dan berterus terang akan terkesan perempuan gampangan dan cewek murahan. Tetapi jika terlalu ketat dan ja-im, maka terkesan jual mahal, malah sulit cowok yang mau mendekat.

Lalu bagaimana?

Seorang akhwat harus pinter-pinter berada di antara itu. Harus cerdas melakukan tarik-ulur, kalau terlalu jauh, tarik perlahan, jika terlalu dekat, ulur.

Jangan biarkan seorang cowok merasa mudah mendapatkanmu, tapi berikan perhatian yang cukup sehingga membuatnya tetap berharap dan porsi “ge-er”nya cukup memberinya energi untuk terus berjuang mendapatkanmu.

Ulfa, seorang teman yang aktif di suatu unit kegiatan ekstra-kurikuler, dia jadi kecengan seseorang, dimana teman saya itu sebenarnya berharap juga. Rinaldi, nama cowok tersebut, mentalnya tampak belum cukup kuat. Ia belum terlalu akrab dengan Ulfa, tapi sudah ujug-ujug ngajak makan bareng, tentu Ulfa menolak dengan suatu alasan.

Mungkin malu, Rinaldi langsung lenyap dari muka bumi. Maksudnya hilang dari segala kegiatan unit tersebut.

Suatu saat Ulfa bertemu Rinadi di kantin Salman, mereka saling sapa, dan Ulfa menarik “tali layang-layang”nya: “Kang, kok sudah lama sekali gak kelihatan di unit?” (padahal baru 2 minggu).

Ini tarikan sedikit tapi cukup memberikan semangat baru pada Rinaldi.

[BERSAMBUNG]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar