Jumat, 12 November 2010

Perangkap (2)

Bagian kedua


1) Problem ke-1

Mungkin cerita di atas tampak seru. Tapi ada problem utama yang menghadang, yaitu faktor N.

N itu adalah Niat dan Nyali.

Jika kita tidak mau dan tidak bisa mengatasi faktor ini, maka tulisan dan uraian berikut tidak ada gunanya. Sia-sia.

Jika belum punya, nyali perlu di tumbuhkan. Jangan mengira saya melakukannya karena pengalaman, atau Anda menduga saya seorang playboy, wah nggak deh.

Pengalaman saya NOL besar.

Yang menjadi “energi” saya mau melakukannya adalah prinsip bahwa: Jika kita tidak melakukan apapun, maka kita tidak akan dapat apa-apa. Jika kita tidak berusaha maka sudah dipastikan gagal.

Agak berbau filosofis, tapi begitulah.

Ada teman satu jurusan dan satu angkatan. Orangnya kecil, pendiam, tapi nyalinya kelewat besar, namanya Dicky.

Suatu hari di Aula Barat. Kami sedang duduk bertiga, saya, Dicky, dan Kuswara (teman saya yang berkenalan bersama Wati dan Herlin).

Ada beberapa cewek jurusan Kimia datang, celingak-celinguk mencari tempat kosong, dan mereka menghampiri meja kami karena memang masih ada sekitar 8 kursi tanpa penghuni.

Dicky panik dan berbisik pada saya dan Kuswara, “Aduh, ini Lisa, kecengan saya”.

Saya tertawa, “sudah kenal belum?”.

Dicky tertawa, “belum, sekarang saja gitu?”.

“Ya sok atuh, untung deket gini”, saya memanasi.

Dicky berpikir sebentar, lalu menggeser kursinya mendekati Lisa.

“Eh, kamu Lisa ya? kenalan dong, saya Dicky. Kamu cantik sekali, saya suka sama kamu. Kamu mau sama saya nggak?”.

Mati aku!, saya kaget setengah mati. Ini bunuh diri!.

Saya lihat Lisa dan temannya melongo, mulutnya terbuka, saling berpandangan, lalu mereka akhirnya tertawa.

Kuswara menendang kaki saya, lalu ia memberi isyarat untuk kabur.

Saya dan Kuswara bergegas mengemasi buku-buku lalu memasukkan ke ransel, lalu buru-buru minggat.

“Gawat si Dicky, kita yang malu”, Kuswara ngomel.

Kami berdua berjalan setengah berlari menuju pintu keluar sambil geleng-geleng kepala, “Ia betul Kus, ntar dikira kita sama gilanya”.

Itu kejadian 25 tahun yang lalu, yang sudah pasti istri Dicky saat ini bukan Lisa, dan sampai sekarang saya tidak tahu apa yang terjadi di Aula Barat saat kami kabur. Apakah Dicky ditampar Lisa atau cuma ditertawakan mereka.

Dicky punya nyali, tapi kebablasan, terlalu nekat dan tanpa perhitungan, atau tepatnya kurang taktis.

Tidak patut dicontoh.


2) Problem ke-2

Media atau Mediator!. Itulah problem kedua.

Mahasiswa yang menyukai teman satu jurusan satu angkatan, tidak mempunyai jenis problem ini. Pertemuan mereka bahkan sudah dijadwalkan oleh bagian roster akademik, jam sekian di ruang mana. Mereka bisa memanfatkan banyak peluang setiap hari untuk berinteraksi satu sama lain.

Tapi mahasiswa yang menyukai mahasiswi beda jurusan, apalagi beda angkatan jauh di bawah, dan mereka berbeda unit kegiatan/ekstra-kurikuler, nah ini baru seru.

Pria yang sudah diwisuda tapi masih membujang, mereka biasanya bingung: “Dimanakah akan kucari bidadariku . . .”.

Atau wanita yang sudah lulus sekolah tapi masih jomblo, mereka akan bersenandung sedih dengan suara fals: “Dimanakah akan kudapatkan pangeranku . . .”

Laki-laki dan perempuan single yang sudah bekerja sama resahnya.

Dunia nyata yang disebut “kantor” sudah demikian formal. Pencarian pasangan terkendala dengan suasana kerja, jam kerja yang padat, serta hubungan kedinasan yang menyulitkan.

Dalam dunia kerja, pria ganteng biasanya sudah punya pasangan, wanita cantik sudah tunangan, lelaki keren sudah menikah, perempuan menawan sudah bersuami.

Problem mediator sangat erat kaitannya dengan Kreatifitas.

Kakak tertua saya, perempuan, sudah masuk ITB saat saya masih kelas 1 SMP. Dia aktif di unit kegiatan ekstra-kurikuler kesenian Jawa, memang dia hobbynya menari.

Tiba-tiba suatu saat dia mendaftar juga ke unit kegiatan Marching-Band. Ternyata itu dia lakukan karena disana ada cowok ganteng, orangnya tinggi, gagah. Cowok ini pernah datang beberapa kali ke rumah. Tapi cowok ganteng ini terlalu flamboyan, baru markir motor wangi parfumnya sudah tercium sampai dapur, tampak gagah tapi kurang macho.

Tidak sampai 6 bulan, mereka putus. Kakak saya keluar dari Marching Band dan pindah ke unit Pramuka. Disinilah dia menemukan calon suaminya.

Kakak saya itu, walau perempuan, tapi dia kreatif.

Media itu banyak: organisasi sosial, unit kegiatan, grup olah raga, kelompok hobbies, komunitas kesenian, keagamaan (mesjid, majelis ta’lim), dan sebagainya. Facebook mungkin saja itu termasuk media, walau agak berbahaya karena kita bisa menemukan penipu juga disana.

Apakah pembinaan relationship mustahil tanpa mediator?

Tidak juga, kita tetap bisa membangun dan menyusun kubus-kubus pertemanan sampai terbentuk bangunan piramida yang kokoh tanpa media klasik, tapi kita dituntut lebih kreatif, jauh lebih kreatif!. Sehingga kita tidak terjebak dalam kerutinan yang menjemukan.

Bayangkan, Anda berhasil melalui proses perkenalan yang spektakuler, Anda bisa mengatasi demam panggung, mendobrak ketakutan, menyusun kekuatan untuk bernyali, dan Anda berhasil menarik perhatian gadis pujaan, lalu?.

Anda mendatanginya pada hari tertentu, sebut saja tiap malam minggu.

Sejak sore ritual dimulai, mandi lebih awal, pilih baju yang mau dipakai, sholat magrib terburu-buru, mendatangi rumahnya, lalu duduk mengobrol, dengan topik yang akhirnya itu-itu juga. Pulang jam 9 malam, menembus kemacetan khas malam minggu. Apakah ini tidak membosankan?

Bagi yang berada dalam suatu media, tentu akan lebih dinamis karena media mempunyai kegiatan yang bisa dilakukan bersama. Jadi jika kita tidak mempunyai media klasik, maka tuntutan akan kreatifitas lebih besar sehingga tidak hanya berada di seputar ritual malam minggu yang menjemukan.

Joko teman saya di resimen mahasiswa, dan teman perempuannya (saya lupa namanya), keduanya senang membaca, dan mereka sering diskusi berbagai buku. Saya pernah makan di kantin dengan mereka, terus terang saya tidak tertarik dengan obrolan mereka, tapi mereka berdua asyik banget, ya tentu itu dunia mereka. Mereka menciptakan mediator untuk interaksi saling mengenal satu sama lain.

Lain Joko, lain dengan Rudi, kawan saya di ITB juga. Ia berhasil berteman dengan mahasiswi dari UNPAD. Rudi senang memotret, Vina temannya senang mengumpulkan kliping.

Rudi tidak memanej koleksi fotonya dengan baik. Rudi terus memotret, dan Vina sibuk menghimpun koleksi fotonya dalam album, menyusunnya, mencatat tanggal pemotretan, menambahkan stiker atau hiasan kecil, dan memberi komentar-komentar lucu pada album tersebut.

Yang luar biasa dari pasangan ini: Kesibukan ini berlangsung 2 tahun!. Menarik sekali, impresif dan sangat inspiratif.

Selama 2 tahun Rudi dan Vina saling menjajagi perasaan masing-masing, interaksi ini membuahkan hasil, mereka bisa saling mengenal dan memahami.

Inilah yang disebut media non-klasik, yaitu media yang diciptakan sendiri.

Jika Anda saat ini berada pada situasi sulit. Tidak ada media klasik apapun, sementara media non-klasik sulit diciptakan, maka yang Anda lakukan adalah: rebut perhatiannya dengan perjumpaan yang penuh dinamika.


3) Menarik perhatiannya?

Ya!. Tapi bagaimana caranya?

Jangan menggunakan ilmu pembeli tapi gunakan ilmu pedagang. Lho? Teknik buat siapa ini? Cewek atau cowok? Ya dua-duanya. Keduanya harus menggunakan ilmu pedagang.

Pembeli yang tahu ilmu negosiasi akan menyembunyikan ketertarikannya pada barang yang diminatinya. Coba saja, ketika Anda sedang memilih-milih barang lalu menemukan barang yang bagus, kemudian Anda bilang ke teman yang mendampingi Anda belanja: “Ini bagus ya?”, atau “Yang ini aja deh, bagus banget warna dan motifnya”, dan jika penjual mengamati Anda saat itu, dijamin Anda sulit untuk menawar barang tersebut!.

Kondisi ini sama saja jika kita sendirian tapi kita menunjukkan secara eksplisit dengan kalimat verbal maupun sikap dan tingkah laku kita menunjukkan kita demen banget dengan itu barang, ya sama saja, penjual akan jual mahal dalam menurunkan harga.

Sedangkan ilmu pedagang (penjual), berbeda. Mereka akan mengeksploitasi kemampuannya, dan menunjukkan keunggulan barang dagangannya.

Jadi, ikhwan atau akhwat harus bersiasat: “Apa yang harus saya lakukan agar saya yang bodoh ini menarik perhatiannya?”.

[BERSAMBUNG]


1 komentar: